TULISAN
1
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
Ciri
Kepribadian yang Matang Oleh Gordon Allport
Saat ini
teori-teori Allport (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan. Berikut
adalah tujuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang
sehat:
1. Perluasan
Perasaan Diri, ketika seseorang menjadi matang, ia mengembangkan
perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan
sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki
partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut
"partisipasi otentik". Dalam pandangan Allport, aktivitas yang
dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut.
Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu
sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi
partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri
kita. Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang,
atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk
pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran, dan
keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.
2. Relasi
Sosial yang Hangat, Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan
dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk
merasa terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi
intim dengan orangtua, anak, pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari
perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan
baik. Adaperbedaan hubungan cinta antara orang yang neurotis (tidak
matang) dan yang berkepribadian sehat (matang). Orang-orang neurotis harus
menerima cinta lebih banyak daripada yang mampu diberikannya kepada orang lain.
Bila mereka memberikan cinta, itu diberikan dengan syarat-syarat. Padahal,
cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau
mengikat.
Jenis
kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman
terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa.
Orang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan,
ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Hasil dari
empati semacam ini adalah kesabaran terhadap tingkah laku orang lain dan tidak
cenderung mengadili atau menghukum. Orang sehat dapat menerima kelemahan
manusia, dan mengetahui dirinya juga memiliki kelemahan. Sebaliknya, orang
neurotis tidak mampu bersabar dan memahami sifat universal
pengalaman-pengalaman dasar manusia.
3. Keamanan
Emosional, Kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka
menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan
tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu,
kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak
berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi,
sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan
cara ditekan, tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.
Kualitas
lain dari kepribadian sehat adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal
ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas
berbagai keinginan atau kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda
untuk mencapai tujuan yang sama. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari
perasaan tak aman dan ketakutan. Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam
dan dapat menanggulangi perasaan tersebut secara lebih baik daripada kaum
neurotis.
4. Persepsi
Realistis, Orang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya,
orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan,
kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini bahwa orang
lain atau situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi.
Mereka memahami realitas sebagaimana adanya.
5. Keterampilan
dan Tugas, Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya
menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki
keterampilan yang relevan dengan pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus
menggunakan keterampilan itu secara ikhlas dan penuh antusiasme. Komitmen pada
orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua
pertahanan ego. Dedikasi terhadap pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung
jawab dan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan
arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan
dan kesehatan psikologis tanpa melakukan pekerjaan penting dan melakukannya
dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.
6. Pemahaman
Diri, Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan
usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai
pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan
sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan
sesungguhnya, individu tersebut semakin matang. Demikian juga apa yang
dipikirkan seseorang tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang
dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang
yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang
objektif. Orang yang memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin
memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain
negatif). Ia dapat menilai orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima
dengan baik oleh orang lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui
humor yang sehat.
7. Filsafat
Hidup, Orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana
jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk
bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut
dorongan-dorongan tersebut sebagai keteraraha (directness).
Keterarahan
itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian
tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang
tetap dari tujuan yang bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami masalah
kepribadian.
Kerangka
dari tujuan-tujuan itu adalah nilai, yang bersama dengan tujuan sangat penting
dalam rangka mengembangkan filsafat hidup. Memiliki nilai-nilai yang kuat
merupakan salah satu ciri orang matang. Orang-orang neurotis tidak memiliki
nilai atau memiliki nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara, yang
tidak cukup kuat untuk mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati
berperan dalam menentukan filsafat hidup. Allport mengemukakan perbedaan antara
suara hati yang matang dengan suara hati tidak matang. Yang tidak matang, suara
hatinya seperti pada kanak-kanak: patuh dan membudak, penuh larangan dan
batasan, bercirikan perasaan "harus". Orang yang tidak matang
berkata, "Saya harus bertingkah laku begini." Sebaliknya, orang yang
matang berkata, "Saya sebaiknya bertingkah laku begini." Suara hati
yang matang adalah perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri
dan orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis.
Carl
Rogers
Menurut
Rogers : Memahami dan menjelaskan teori kepribadian sehat menurut rogers yang
meliputi
Perkembangan kepribadian “self”
Perkembangan kepribadian “self”
Peranan positive regard dalam
pembentukan kepribadian individu
Ciri-ciri
orang yang berfungsi sepenuhya
1. PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN “SELF”
Roger
bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk
mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini, Rogers
mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama
terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi.
Menurut
Rogers, manusia yang sadar dan rasional, tidak dikontrol oleh
peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Hal ini tidak menghukum atau mengutuk
kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol.
Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat
adalah jauh lebih penting daripada masa lampau.
Rogers mempunyai
konsepsi-konsepsi pokok didalam teorinya, yaitu:
· Organism, yaitu
keseluruhan individu
· Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman dan
· Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdeferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.
Self mempunyai beramacam-macam sifat:
a. Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya.
b. Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara yang tidak wajar.
c. Self mengejar keutuhan/kesatuan.
d. Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras dengan self.
e. Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
f. Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan dan belajar.
· Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman dan
· Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdeferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.
Self mempunyai beramacam-macam sifat:
a. Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya.
b. Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara yang tidak wajar.
c. Self mengejar keutuhan/kesatuan.
d. Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras dengan self.
e. Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
f. Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan dan belajar.
Saat kecil,
anak-anak mulai membedakan salah satu segi pengalamannya dari semua yang
lain-lainnya. Anak-anak mulai menambahkan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak
itu mengembangkan kemampuannya untuk membedakan antara apa yang menjadi milik
dan benda yang dilihat, diraba, didengar dan dicium ketika dia mulai membentuk
suatu gambaran tentang siapa dirinya. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan
suatu “pengertian-diri’ (self concept).
Sebagian
dari self concept, anak juga mengambarkan dia akan menjadi apa dan
siapa. Gambaran itu terbentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya
interaksi-interaksi dengan orang lain. Dengan mengamati orang lainterhadap
tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola
gambaran diri yang konsisten.
2. PERANAN POSITIF
REGARD DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN INDIVIDU
Positive
regard, suatu kebutuhan yang memaksa, dimiliki semua manusia; setiap anak
terdorong untuk mencari positive regard.Akan tetapi tidak setiap anak akan
menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau menerima
kasih sayang dan cinta dari orang lain (ibunya), tetapi dia kecewa kalau dia
menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Anak itu akan
tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat, tergantung pada sejauh manakah
kebutuhan akanpositive regard ini dipuaskan dengan baik.
Dalam hal
ini, anak menjadi peka terhadap setiap tanda penolakan dan segera mulai
merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan. Anak mengharapkan
bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang lain, bukan dari dirinya sendiri.
Karena ia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan positive
regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengerahkan energi
dan pikiran. Anak itu harus bekerja keras untuk positive
regard dengan mengorbankan aktualisasi-diri.
Anak dalam
situasi ini mengembangkan apa yang disebut Rogers “penghargaan diri positif
bersyarat” (conditional positive regard). Kasih sayang dan cinta yang
diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak
mengembangkan conditional positive regard maka ia
menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu diambil
alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.
3. CIRI-CIRI
ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHNYA
Hal yang
pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni
keribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan
suatu proses, “suatu arahan bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung
terus; tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Hal kedua
dari aktualisasi diri adalah aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang
sukar dan kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rentangan
dan pecutan terus menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Hal ketiga
tentang orang-orang yang mengaktualissikan diri, yakni mereka benar-benar
adalah diri mereka sendiri. Mereka tida bersembunyi dibelakang topeng yang
berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunikan sebagian diri
mereka.
Rogers tidak
percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup dibawah
hukum-hukum yang diletakkan orang-orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku
yang diperlihatkan, semata-mata ditentukan oleh individu-individu mereka
sendiri. Rogers juga memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya.
a) Keterbukaan
Pada Pengalaman
Seseorang
yang terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua
perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tidak satu pun yang
mengancam. Jadi, keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari dalam dan dari
luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi atau
rintangan.
Orang yang
berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam pengertian bahwa
dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (kebahagiaan
maupun kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat daripada orang yang
defensif.
b) Kehidupan
Eksistensial
Orang yang
berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap
pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam
cara yang persis sama. Maka dari itu ada kegembiraan karena setiap saat
pengalaman tersingkap. Orang yang berfungsi sepenuhnya jelas dapat menyesuaikan
diri karena struktur-diri terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman
baru. Kepribadian yang demikian itu tidak kaku dan dapat diramalkan.
c) Kepercayaan
Terhadap Organisme Orang Sendiri
Bertingkah
laku menurut apa yang dirasa benar merupakan pedoman yang sangat dapat
diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan daripada
faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat
bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam
tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan,
tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak
memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.
d) Perasaan
Bebas
Rogers
percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia
mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih
dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan antara alternatif
pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan
berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan
tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan atau peristiwa
masa lampau.
e) Kreatifitas
Orang-orang
yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian
diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Rogers percaya
bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan
bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi
lingkungan. Mereka memiliki kreatifitas dan spontanitas untuk menanggulani
perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau
bencana-bencana ilmiah.
Abraham
Maslow
Teori
Kepribadian Abraham Maslow
1) Individu
sebagai Kesatuan Terpadu
Pertama-tama Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi, sehingga motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu adalah motivsi individu seutuhnya bukan bagian darinya. Menurut maslow manusia harus diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai suatu system, setiap bagian tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Pernyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
Pertama-tama Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi, sehingga motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu adalah motivsi individu seutuhnya bukan bagian darinya. Menurut maslow manusia harus diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai suatu system, setiap bagian tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Pernyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
2) Hirarki
Kebutuhan
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.. Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima karakteristik. sebagai berikut:
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.. Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima karakteristik. sebagai berikut:
a. Kebutuhan
fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini
b. Kebutuhan
akan rasa aman
Setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan. Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak berlebih-lebihan atau selalu mendesak. Kebanyakan diantara kita ini tidak menyerah atau sama sekali tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi dalam pada itu juga kita merasa tidak puas kalau jaminan dan stabilitas sama sekali tidak ada.
Setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan. Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak berlebih-lebihan atau selalu mendesak. Kebanyakan diantara kita ini tidak menyerah atau sama sekali tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi dalam pada itu juga kita merasa tidak puas kalau jaminan dan stabilitas sama sekali tidak ada.
c. Kebutuhan
sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini,belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya seorang sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
Maslow percaya bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta kerena mobilitas kita.begitu sering kita berganti rumah, tetangga, kota, bahkan pathner, sehingga kita tidak dapat berakar. Kita tidak cukup lama berada disuatu tempat untuk mengembangkan perasaan yang memiliki. Banyak orang dewasa merasakan kesepian dan terisolasi, meskipum mereka hidup ditengah-tengah orang banyak.
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini,belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya seorang sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
Maslow percaya bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta kerena mobilitas kita.begitu sering kita berganti rumah, tetangga, kota, bahkan pathner, sehingga kita tidak dapat berakar. Kita tidak cukup lama berada disuatu tempat untuk mengembangkan perasaan yang memiliki. Banyak orang dewasa merasakan kesepian dan terisolasi, meskipum mereka hidup ditengah-tengah orang banyak.
d. Kebutuhan
akan penghargaan
Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk tumbuh berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.Kebutuhan akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan. Dengan demikian perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus dan terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih suka memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima.
Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk tumbuh berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai.Kebutuhan akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan. Dengan demikian perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus dan terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih suka memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima.
Erich Fromm
Menurut
Erich Fromm, manusia adalah makhluk sosial. Berdasar pada pendapat tersebut,
maka salah satu ciri pribadi yang sehat berarti adanya kemampuan untuk hidup
dalam masyarakat sosial. Masyarakat sangat penting peranannya dalam membentuk
kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang merupakan hasil dari proses sosial
di dalam masyarakat. Masyarakat yang menjadikan seseorang berkepribadian sehat
adalah masyarakat yang hubungan sosialnya sangat manusiawi.
Menurut
Fromm, ada lima watak sosial di dalam masyarakat:
1)
Penerimaan (receptive)
2)
Penimbunan (hoarding)
3)
Penjualan/pemasaran (marketing)
4)
Penghisapan/pemerasan (exploitative)
5) Produktif
(productive)
Dari kelima
watak sosial ini yang benar-benar tepat dan sehat hanyalah watak produktif
karena watak produktif didorong oleh cinta dan akal budi dan dapat membantu
perkembangan dan pertumbuhan pribadi dan masyarakat.
Masyarakat
yang baik itu perlu ditopang dengan cinta. Oleh karena itu, Fromm menyebutkan 5
tipe yang berbeda tentang cinta, yaitu:
1) Cinta
persaudaraan
2) Cinta
keibuan
3) Cinta
erotik
4) Cinta
diri
5) Cinta
ilahi
Menurut
Fromm, cinta sangat penting untuk membangun dunia yang lebih baik sebab yang
dicari setiap orang di dalam masyarakat bukan penderitaan.
Jadi menurut
Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup dalam masyarakat
sosial yang ditandai dengan hubungan-hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh
solidaritas penuh cinta dan tidak saling merusak atau menyingkirkan satu dengan
lainnya. Tujuan hidup seorang pribadi adalah keberadaan dirinya itu sendiri dan
bukan pada apa yang dimiliki, pada apa kegunaannya atau fungsinya (A man whose
goal in life is being, not having and using). Dengan demikian, menurut Fromm,
orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
mampu
mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat,mampu
mencintai dan dicintai,mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi
kepercayaan itu,mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat,mampu
menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknyamemiliki watak
sosial yang produktif.
SUMBER
:
Schultz, D.psikologi pertumbuhan : model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.
Saleh, Julianto.Jurnal Al Bayan Vol.7 No. 7 Januari – Juni 2003. Hirarki Kebutuhan Maslow Menurut Abraham Maslow : Aplikasi terhadap Klasifikasi Mad’u dalam Proses Dakwah.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius
M.M. Nilam
Widyarini, MSi, dalam jurnal http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/10/20084435/kepribadian.yang.matang
TULISAN 2
PENGERTIAN STRESS
Arti penting
Stress
Stres adalah
suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang,
tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh
individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah
beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga
perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Efek-efek
Stress menurut Hans Seyle
Menurut Hans
Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930, tidak semua jenis stres yang
merugikan, dengan demikian, ia datang dengan eustress dan kesusahan. Kita semua
melakukan menjalani ringan, saat-saat singkat dan dikendalikan dari ketegangan
saraf yang dianggap umum, dan bertindak sebagai rangsangan positif terhadap
pertumbuhan seseorang intelektual dan emosional. Selye disebut eustress ini. Ia
didefinisikan distres menjadi sesuatu yang sebaliknya dan ditandai dengan
tekanan fisik dan psikologis yang parah yang mengganggu kesehatan umum.
Efek
fisiologis dari stress pada tubuh meliputi:
- Nyeri dada
- Insomnia
atau masalah tidur
- Nyeri
kepala Konstan
- Hipertensi
- Tukak
Stres
dikatakan menjadi sebuah faktor penunjang untuk produksi suatu penyakit
tertentu, atau mungkin menjadi penyebab respon perilaku negatif, seperti
merokok, minum alkohol dan penyalahgunaan narkoba yang semuanya dapat membuat
kita rentan terhadap penyakit. Hal buruk dapat mempengaruhi sistem kekebalan
tubuh sehingga menyebabkan tubuh kita menjadi kurang tahan terhadap sejumlah
masalah kesehatan.
Tipe-Tipe
Stress Psikologis
Menurut
Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis, yaitu ;
-
Tekanan
Tekanan
timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri
individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga
menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri
individu, misalnya orang tua yang menuntut anaknya untuk masuk ke dalam jurusan
yang tidak diminati oleh anaknya, anak yang menuntut orang tua untuk dibelikan
semua kemauannya, dan lain-lain.
-
Frustasi
Frustasi
muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya
seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut
harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa
rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan
atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan
usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai,
krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.
-
Konflik
Konflik
ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan,
kebutuhan, aau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk
dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik
digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, approach-avoidant
conflict, avoidant-avoidant conflict.
-
Kecemasan
Kecemasan
merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/ kegelisahan,
ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan
akan terjadinya sesuatu yang buruk. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi
ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia
melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum
tentu marah padanya.
Symptom-Reducing
Responses Stress
Berikut
mekanisme pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk
dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
-
Identifikasi
Identifikasi
adalah suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan
membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti
orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen
pembimbingnya memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah,
dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti
dosennya.
-
Kompensasi
Seorang
individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan
kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang
Matematika, namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.
-
Overcompensation/ reaction formation
Perilaku
seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan
pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang
biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur
gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib
saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
-
Sublimasi
Sublimasi
adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan
suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek
dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih
tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang
potong hewan.
-
Proyeksi
Proyeksi
adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada
objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain.
Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak
menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.
-
Introyeksi
Introyeksi
adalah memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya
seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut
ke dalam pribadinya.
-
Reaksi konversi
Secara
singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik.
Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya
menjadi pucat dan berkeringat.
- Represi
Represi
adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan
ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya
seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh
bosnya tadi siang.
-
Supresi
Supresi
yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu
tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan
berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
-
Denial
Denial
adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi
pantangannya.
-
Regresi
Regresi
adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi,
ia menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang
digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
-
Fantasi
Fantasi
adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan
berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak
memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi
dirinya dengan orang yang ia cintai.
-
Negativisme
Adalah
perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain
dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah
gurunya dengan bolos sekolah.
-
Sikap mengkritik orang lain
Bentuk
pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku
ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan
yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat
berlangsung.
Pendekatan
problem solving terhadap stress
Selain
mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi serta mengurangi
stress yang timbul karena adanya stressor, individu dapat juga menggunakan
berbagai strategi coping yang spontan untuk mengatasi stress “minor”.
Strategi
Koping yang Spontan mengatasi Stress
Strategi
koping yang berhasil mengatasi stres harus memiliki tiga komponen pokok:
-
Peningkatan kesadaran terhadap masalah: mengetahui dan memahami masalah serta
teori yang melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
- Pengolahan
informasi: suatu pendekatan dengan cara mengalihkan persepsi sehingga ancaman
yang ada akan diredam. komponen ini meliputi pengumulan informasi dan
pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah.
-
Pengubahan perilaku: suatu tindakan yang dipilih secara sadar dan bersifat
positif, yang dapat meringankan, meminimalkan, atau menghilangkan stressor.
Resolusi damai: suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil di atasi.
Sumber :
TULISAN
3
Pengertian
coping dan Jenis – jenis coping (koping) stress
-
Definisi
Coping :
strategi
coping merupakan suatu upaya indivdu untuk menanggulangi situasi stres yang
menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kogntif
maupun prilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya sendiri. Coping yang
efektif umtuk dilaksanakan adalah coping yang membantu seseorang
untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan
yang tidak dapat dikuasainya (lazarus dan folkman).
- Jenis –
jenis koping stres :
a. Koping
psikologis
Pada umumnya
gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung pada dua factor
yaitu:
1. Bagaimana
persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya seberapa berat
ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang
diterimanya.
2.
Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu; artinya dalam
menghadapi stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan
adaptasi yang baik dan menjadi suatu pola baru dalam kehidupan, tetapi jika
sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis.
b. Koping
psiko-sosial
Yang biasa
dilakukan individu dalam koping psiko-sosial adalah, menyerang, menarik diri
dan kompromi.
1. Prilaku
menyerang
Individu
menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahan
integritas pribadinya. Prilaku yang ditampilkan dapat merupakan tindakan
konstruktif maupun destruktif. Destruktif yaitu tindakan agresif (menyerang)
terhadap sasaran atau objek dapat berupa benda, barang atau orang atau bahkan
terhadap dirinya sendiri. Sedangkan sikap bermusuhan yang ditampilkan adalah
berupa rasa benci, dendam dan marah yang memanjang. Sedangkan tindakan
konstruktif adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara asertif.
Yaitu mengungkapkan dengan kata-kata terhadap rasa ketidak senangannya.
2. Prilaku
menarik diri
Menarik diri
adalah prilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang
lain, jadi secara fisik dan psikologis individu secara sadar meninggalkan
lingkungan yang menjadi sumber stressor misalnya ; individu melarikan diri dari
sumber stress, menjauhi sumber beracun, polusi, dan sumber infeksi. Sedangkan
reaksi psikologis individu menampilkan diri seperti apatis, pendam dan
munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu.
3. Kompromi
Kompromi
adalah merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk
menyelesaikan masalah, lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah
atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang sihadapi, secara umum
kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat diselesaikan.
Kaitan
antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli
yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976).
Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal
yang berbeda. (Harber dan Runyon, 1984).
Lazarus
membagi koping menjadi dua jenis yaitu:
-
Tindakan
langsung (direct Action)
Koping jenis
ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan ole individu untuk
mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah
hubungan hubunngan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan
koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan
posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam
koping jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan
diri untuk menghadapi luka
Individu
melakukan langkah aktif dan antisipatif (bereaksi) untuk menghilangkan atau
mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan
yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya,
dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai
belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan
sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya baik disbanding
dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian
saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi
merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi
lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi
adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai
mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa atau menilai
dirinya lebih kuat atau berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut.
Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakuakan oleh pemerintah Jakarta terhadap
penduduk yang berada dipemukiman kumuh. Tindakan tersebut bias dilakukan karena
pemerintah memilki kekuasaan yang lebih besar disbanding dengan penduduk
setempat yang digusur.
Agresi juga
sering dikatakan sebagai kemarahan yang meluap-luap, dan orang yang melalakukan
serangan secara kasar, dengan jalan yang tidak wajar. Karena orang selalu gagal
dalam usahanya, reaksinya sangat primitive, berupa kemarahan dan luapan emosi
kemarahan dan luapan emosi kemarahan yang meledak-meledak. Kadang-kadang
disertai prilaku kegilaan, tindak sadis, dan usaha membunuh orang.
Agresi ialah
seseperti reaksi terhadap frustasi, berupa seranngan, tingkah laku bermusuhan
terhadap orang atau benda.
Kemarahan-kemarahan
semacam ini pasti menggangu frustasi intelegensi, sehingga harga diri orang
yang bersangkutan jadi merosot disebabkan oleh tingkah lakunya yang agresif
berlebih-lebihan tadi. Seperti tingkah laku yang suka mentolerir orang lain,
berlaku sewenang-wenang dan sadis terhadap pihak-pihak yang lemah, dan
lain-lain.
c. Penghindaran
(Avoidance)
Tindakan ini
terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga
individu memilih cara menghindari atau melarikan diri dari situasi yang mengancam.
Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut
akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti aceh.
d. Apati
Jenis koping
ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu
yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan
tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang
mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei. Orang-orang Cina yang menjadi
korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian
biadab yang menimpa mereka. Pola apati terjadi bila tindakan baik tindakan
mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun advoidance sudah tidak
memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam kasus diatas,
orang-orang cina sering kali dan berulangkali menjadi korban ketika terjadi
kerusuhan sehingga menimbilkan reaksi apati dikalangan mereka.
2. Peredaan
atau peringatan (palliation)
Jenis koping
ini mengacu pada mengurangi, menghilangkan dan menoleransi tekanan-tekanan
ketubuhan atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dan tekanan emosi yang
dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila
individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak
berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi
atau reaksi emosinya.
Ada 2 jenis
koping peredaan atau palliation:
a. Diarahkan
pada gejala (Symptom Directid Modes)
Macam koping
ini digunakan bila gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu
melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan
emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan
obat-obatan terlarang, narkotika, merokok, alcohol merupakan bentuk koping
dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat
negative. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan
juga tergolong kedalam symptom directed modes tetapt bersifat positif.
b. Cara
intra psikis
Koping jenis
peredaan dengan cara intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan
perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah
Defense Mechanism (mekanisme pertahanan diri).
Disebut
sebagai defence mechanism atau mekanisme pembelaan diri, karena individu yang
bersangkutan selalu mencoba mengelak dan membela diri dari kelemahan atau
kekerdilan sendiri dan mencoba mempertahankan harga dirinya: yaitu dengan jalan
mengemukakan bermacam-macam dalih atau alasan.
Jenis –
jenis koping yang konstruktif dan positif.
Jenis-jenis
koping yang konstruktif atau positif (sehat) Harmer dan Ruyon (1984)
menyebutkan jenis-jenis koping yang dianggap konstruktif: yaitu:
1. Penalaran
(reasoning)
Yaitu
penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi bebagai macam alternatif
pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternate yang dianggap
paling menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai informasi
yang relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian membuat
alternatif-alternatif pemecahannya, kemudian memilih alternative yang paling
menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang
diperoleh paling besar.
2. Objektifitas
Yaitu
kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam
pemikiran, penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan
untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan
dengan yang tidak berkaitan. Kemampuan untuk melakukan koping jenis
objektifitas mensyaratkan individu yang bersangkutan memilki kemampuan untuk
mengelola emosinya sehingga individu mampu memilih dan membuat keputusan yang
tidak semata didasari oleh pengaruh emosi.
3. Konsentrasi
Yaitu
kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang
dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari
pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang
sedang dihadapi. Pada kenyataannya, justru banyak individu yang tidak mampu
berkonsetrasi ketika menghadappi tekanan. Perhatian mereka malah terpecah-pecah
dalam berbagai arus pemikiran yang justru membuat persoalan menjadi seakin
kabur dan tidak terarah.
4. Penegasan
diri (self assertion)
Individu
berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stress dengan cara
mengekpresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara langsung tetapi
dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain. Menjadi asertif
tidak sama dengan tidakan agresi. Sertif adalah menegaskan apa yang dirasakan,
dipikirkan oleh individu yang bersangkutan, namun dengan menghormati pemikiran
dan perasaan orang lain. Dewasa ini pelatihan-pelatihan dibidang asertifitas
mulai banyak dilakukan untuk memperbaiki relasi antar manusia.
5. Pengamatan
diri (self observation)
Pengamatan
diri sejajar dengan introspreksi, yaitu individu melakukan pengujian secara
objektif proses-proses kesadaran sendiri atau mengadakan pengamatan terhadap
tingkah laku, motif, cirri, sifat sendiri, dan seterusnya untuk mendapatkan
pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin mendalam. Pengamatan diri
mengandaikan individu memilki kemampuan untuk melakukan transedensi, yaitu
kemampuan untuk membuat jarak antara diri yang diamati dengan diri yang mengamati.
Perkembangan kognitif dan latihan-latihan melakukan introspeksi yang dilakukan
sejak remaja, akan mempertajam keterampilan untuk melakukan pengamatan diri.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar