Teori pembuatan keputusan
Pembuatan keputusan
merupakan salah satu unsure yang sangat esensial
dalam organisasi dan
manajemen. Pembuatan keputusan bukan hanya fungsi
pimpinan, tapi juga
suatu proses partisipasi seluruh anggota untuk meningkatkan
fungsi-fungsi
manajemen. Bagi pimpinan pembuatan keputusan itu merupakan salah
satu fungsi untuk yang
tidak dapat dihindari untuk tidak melakukannya, sebab tanpa
pembuatan keputusan
fungsi kepemimpinan tidak dapat dilaksanakan dan pungsi
manajemen tidak dapat
berjalan untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Herbent Simon (1978)
mengemukakan bahwa keputusan itu adalah suatu
manifestasi kewenangan
pimpinan yang sangat diharapkan oleh bawahan, sebab
tanpa pembuatan
keputusan, seluruh kegiatan bawahan menjadi tidak pasti. Ketidak
pastian ini menyebabkan
lemahnya pimpinan yang dapat mengakibatkan labilnya
organisasi. Kelabilan
ini merupakan titik awal kehancuran organisasi.
Konsep, Pengertian
Dasar dan Tujuan DSS
Konsep DSS
Konsep DSS dimulai pada
akhir tahun 1960-an dengan timesharing komputer. Untuk pertama kalinya
seseorang dapat berinteraksi langsung dengan komputer tanpa harus melalui
spesialis informasi.
Gambar 1. Matriks Gorry
dan Scott Morton
Gambar 1 diatas
didasarkan pada konsep Simon mengenai keputusan tepogram dan tak terpogram
serta tingkat-tingkat manajemen Robert N.Anthony. garis terputus-putus
horisontal yang melalui tengah matriks sangat penting. Garis itu memisahkan
masalah yang telah berhasil dipecahakan pada saat itu dengan bantuan komputer
(bagian atas) dari masalah yang belum terkena pengolahan komputer.
Pengertian DSS :
suatu sistem yang memeberikan kontribusi terhadap para manajer untuk memberikan
dukungan dalam pengambilan keputusan.
Tujuan DSS :
Menurut Peter G.W. Keen
dan Scott Morton, ada tiga tujuan yang harus dicapai DSS, antara lain:
1. Membantu
manajer membut keputusan untuk memecahkan masalah semi terstruktur.
2. Mendukung
penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya.
3. Meningkatkan
efektifitas pengambilan keputusan manajer daripada efisiensinya.
MODELAN MATEMATIS
Model adalah abstrak,
model itu mewakili beberapa entity, yaitu objek dan aktivitas. Contohnya jika
sebuah model mewakili perusahaan maka perusahaan itu disebut entity-nya.
Macam-macam model :
Model Statis dan
Dinamis.
Model statis adalah
model yang tidak memasukkan waktu sebagai variabelnya, model ini berkaitan
dengan situasi pada pada suatu saat tertentu sedangkan model dinamis adalah
model yang memasukan waktu sebagai variabel, model ini mewakili tingkah laku
entity sepanjang waktu.
Model Probabilitik dan
Deterministik
Model pobabilitas
adalah model tentang adanya peluang akan terjadi sesuatu. Pobabilitas mempunyai
jangkauan 0,00 (untuk sesuatu yang tidak punya peluang) dan 1,00 (untuk sesuatu
yang nyata-nyata terjadi) sedangkan model deterministic adalah kebalikan dari
model pobabilitas.
Model Optimisasi dan
Suboptimisasi
Model optimisasi adalah
model yang menentukan pemecahan terbaik diantara altermatif yang ada. Agar
model tersebut dapat melakukan hal ini, maka masalah harus terstruktur dengan
baik. Sedangkan model suboptimisasi yang seringkali disebut satisficing model
adalah model yang memungkinkan manajer untuk melakukan serangkaian keputusan,
dan model tersebut akan memproyeksikan penyelesaian. Model ini tidak
mengidentifikasikan keputusan yang akan mennghasilkan penyelesaian yang
terbaik, namun menyerahkan tugas tersebut kepada manajer.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
PEMODELAN
Manajer yang
menggunakan model matematis memperoleh keuntungan sebagai berikut :
Proses pemodelan
menjadi pengalaman belajar.
Kecepatan simulasi
memberikan kemampuan bagi kita untuk mengevaluasi dampak keputusan dalam jangka
waktu yang singkat.
Model memberikan daya
peramalan.
Model membutuhkan biaya
yang lebih murah daripada metode trial and error.
Sedangkan kerugian
model matematis adalah :
Sulitnya pemodelan
sistem bisnis dan akan menghasilkan model yang tidak dapat menangkap semua
pengaruh pada entity.
Dibutuhkan keterampilan
matematika yang tinggi untuk menggembangkan model yang lebih kompleks secara
pribadi.
SPK berkelompok
keunggulan
Adanya pengetahuan yang
lebih luas
Pencarian alternatif
keputusan lebih luas
Adanya kerangka
pandangan yang lebar
Resiko keputusan
ditanggung kelompok
Karena keputusan
kelompok, setiap individu termotivasi untuk melaksanakan
Dapat terwujudnya
kreativitas yang lebih luas, karena adanya berbagai pandangan kelemahan Lempar
tanggung jawab mudah terjadi
Memakan waktu dan biaya
lebih
Efisiensi pengambilan
keputusan menurun
Keputusan kelompok
dapat merupakan kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok
Bila ada anggota yang
dominan, keputusan bukan mencerminkan keinginan kelompok
Peran DSS dalam
Pemecahan Masalah
Sistem Penunjang
Keputusan (Decision Support System) mempunyai peran yang cukup penting dalam
menyelesaikan suatu masalah yang dialami perusahaan. DSS dapat memperluas
dukungan manajer dalam pemecahan masalah, karena DSS membagi masalah menjadi
beberapa struktur untuk membantu manajer mengidentifikasi masalah dan
menyelesaikan masalah tersebut dengan keputusan yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
McLeod, Raymond Jr.
Sistem Informasi Manajemen Jilid 2. PT Prenhallindo : Jakarta
Covey, Stephen R.
(1991). The 7 Habbits of Highly Effective People New York:
A Fireside Book.
Duke, Daniel L., and
Canady, Robert L. (1991). School Policy. New York:
McGraw Hill, Inc.
Hargreaves, Andy., and
Reynolds, David. (1989). Educational Politicies:
Controversies and
Qritiques. Wiltshere: The Falmer Press.
Hough, J.R. (1984).
Educational Policy. New York: st. Martin’s Press.
Kami, Michael J.
(1988). Trigger Points. Singapore: McGraw Hill International
Editions.
Kanter, Rosabeth M.
(1989). When Giants Learn to Dance. New York: A
Touchstone Book.
Putman, Linda L., and Pacanowsky,
Michael E. (1983). Communication and
Organization. Beverly
Hills: Sage Publication, Inc.
Water, Dan. (1991).
21st
Century Management.
Singapore: Prentice Hall.
