TULISAN 1
KESEHATAN MENTAL
Apakah itu sehat ??? Seperti apakah orang yang sehat itu??? Apakah diri
anda sudah sehat??? Hingga bagaimana kah kepribadian mental ??? Mungkin selama
ini yang kita ketahui orang yang sehat mental ialah orang yang tidak memiliki penyakit,
tidak memiliki catat, maka dari sana tugas kali ini akan menjabarkan sedikit
pengertian hingga sejarah akan kesehatan mental.
1. KONSEP SEHAT BESERTA DIMENSINYA
Konsep sehat yaitu dimana keadaan seeorang tersebut memiliki kesehatan yang
baik jauh dari ketidak sempurnaan pada kesehatan jasmani maupun rohani, baik
pikiran, emosional, dan spiritual. Kesehatan dalam keadaan sempurna , baik dari
fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya terhindar dari berbagai penyakit,
cacat, dan penyakit permanen lainnya. Disini dikatakan baik dalam pikiran yaitu
seperti dalam akal dan berfikir. Emosional seperti hal kemampuan seseorang
dalam hal menanggapi suatu permasalahan dan pengekspresian akan sesuatu hal
yang sedang difikirkan atau yang sedang ia pendam. Sedangkan spiritual seperti
keagamaan, iman, dan bagaimana seseorang tersebut menempatkan diri dalam
kehidupan bermasyarakat. Dimensi kesehatan mental itu terbagi menjadi empat,
yaitu:
- Fisik,
dimana seseorang memiliki fisik yang baik dan sehat
- Mental,
dimana secara mental seseorang dapat mengendalikan emosi dan perasaan
dalam diri.
- Sosial,
seseorang mampu membaur atau menempatkan diri terhadap lingkungan
sosialnya.
- Ekonomi,
seseorang dapat memenuhi dan terpenuhi segala kebutuhan sehari-hari.
- SEJARAH
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Sebelum tahun 1600 dan taun 1692 gangguan
mental tidak dianggap sebagai sakit.
·
Pada tahun 1600
Masyarakat Amerika menyimpulkan bahwa
orang yang mengalami gangguan mental ialah orang yang dirasuki oleh roh-roh
yang ada disekitarnya karena mereka dianggap telah melakukan kesalahan dalam
menyatakan masalahnya.
·
Pada tahun 1692
Pada era ini masyarakat mendapati
pengaruh dari para imigran dari eropa yang beragama nasrani beranggapan
gangguan mental itu ialah orang yang terkena sihir dan diguna-guna. Hal ini
membuat masyarakat takut dan membenci orang yang dianggap memiliki ilmu sihir.
Berbeda dengan di Eropa, khususnya
Inggris, sebelum abad ke-17 orang yang memiliki gangguan mental disamakan
dengan para penjahat dan semacamnya sehingga mereka dimasukan ke dalam tahanan.
·
Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather mematahkan
takhayul yang ada di masyarakat tentu yang berkaitan dengan sakit jwa.
·
Tahun 1812
Benjamin Rush menangani masalah
penanganan secara manusiawi untuk menyelesaikan masalah untuk penyakit mental.
·
Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit
memiliki 2.561 tempat untuk menangani penyakit kesehatan mental.
·
Tahun 1908
Clifford Beers menulis buku tentang
Found Itself dimana buku ini memiliki visi mengenai gerakan kesehatan mental.
·
Tahun 1909
Sigmund Freud mengajarkan psikoanalisa
di Universitas Clark di Worcester.
·
Tahun 1910
Emil Kraepelin pertama kali yang
mengambarkan penyakit alzheimer, dan mengembangkan alat tes yang dapat
digunakan untuk mendeteksi gangguan epilepsi.
·
Tahun 1918
Asosiasi psikoanalisa membuat aturan
bahwa hanya orang yang telah lulus kedokteran dan menjalankan paktek psikiatri
yang dapat memilih calon untuk pelatihan psikoanalisa.
·
Tahun 1920-an
Komite Nasional untuk Mental Higiene
menghasilkan satu set model undang-undang komitmen yang dimasukan ke dalam
aturan beberapa negara.
·
Tahun 1930-an
Psikiater mulai menginjeksikan insulin
yang menyebabkan koma dan shock sementara sebagai suatu treatment untuk
penderita schizofrenia.
·
Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasiakan laporan
mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama.
·
Tahun 1940-an
Elektroterapi yaitu dengan cara
mengaplikasikan listrik tersebut ke otak. Cara ini pertama kali dilakukan di
Amerika untuk menangani masalah ganguan mental.
·
Tahun 1947
Fountain House di New York City telah
memulai rehabilitas psikiatrik untuk mereka yang sakit mental.
·
Tahun 1950
Telah dibentuk NAMH ( Association of
Mental Health ).
·
Tahun 1952
Obat antipsikotik konvensional pertama
yaitu Chlorpromazise.
·
Tahun 1960-an
Para media Inggris mengungkapkan akan kesehatan
mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental agar
mereka berbagi akan cerita pada saat mereka mengalami gangguan mental.
Jadi dari tahun 1724 sampai pada tahun
1960-an Gangguan Mental dianggap sebagai sakit atau penyakit.
·
Tahun 1961
Thomas Szasz menyatakan bahwa “sakit
mental” sebenarnya tidaklah betul-betul “sakit”, tetapi merupakan tindakan
orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.
·
Tahun 1962
Pada tahun ini terdapat 422.000 jiwa
yang mengalami gangguan dan di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di
Amerika Serikat.
·
Tahun 1970
Pada tahun inilah dimulainya
deinstitusional massal.
·
Tahun 1979
NAMH menjadi the National Mental Helath
Association (NMHA).
·
Tahun 1980
Pada saat ini munculnya perawatan
terencana.
Jadi dari tahun 1961 sampai pada tahun
1980 Gangguan Mental dianggap Sebagai Bukan Sakit. Hingga pada sejarah
akan kesehatan mental yang terakhir yaitu melawan diskriminasi terhadap gangguan
mental, yang terjadi pada;
·
Tahun 1990
NMHA memainkan peran pentingnya dlam
memunculkan Disabilities Act, yang artinya melindungi warga Amerika dari
deskriminasi.
·
Tahun 1994
Pada tahun ini diperkenalkan obat
antipsikotik atipikal.
·
Tahun 1997
Para peneliti menemukan kaitan genetik
pada gangguan bipolar yang menunjukan bahwa penyakit ini diturunkan.
PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL
Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang
umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai
kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang
yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik
artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan
mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan
masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa
yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti
itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak
mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi
klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi
kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau
tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan
penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental.
Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak
sehat mental.
penyesuaian diri
:
Menurut
pendekatan kedua yaitu orientasi penyesuaian diri,seseorang dianggap sehat
mental bila ia mampu menggembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang
lain serta lingkungan sekitarnya.
bahwa tidak ada
garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang
sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat
mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan
dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam
satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan
derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal
‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya
manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita
memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan
orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi
kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental
seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses
pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya
Orientasi Pengembangan Potensi
Pendekatan terakhir dalam kesehatan
mental adalah orientasi pengembangan potensi dimana seseorang dianggap mencapai
taraf kesehatan jiwa bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan
potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain
dan dirinya sendiri
sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan
masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan
kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan
dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu,
dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.
SUMBER : ; Hall, Calvin S. &
Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian: Teori-teori Psikodinamik
(Klinis). Yogyakarta: Kanisius
Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar
Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Rochman,Kholil Lul.2010.Kesehatan Mental.Purwokerto : Fajar Media
Press