TULISAN 3
Pengertian coping dan Jenis – jenis coping (koping) stress
-
Definisi Coping :
strategi coping merupakan suatu upaya indivdu untuk menanggulangi situasi
stres yang menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara melakukan
perubahan kogntif maupun prilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya
sendiri. Coping yang efektif umtuk dilaksanakan adalah coping yang
membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak
merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (lazarus dan folkman).
- Jenis – jenis koping stres :
a. Koping psikologis
Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung
pada dua factor yaitu:
1. Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya
seberapa berat ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor
yang diterimanya.
2. Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu; artinya dalam
menghadapi stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan
adaptasi yang baik dan menjadi suatu pola baru dalam kehidupan, tetapi jika
sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis.
b. Koping psiko-sosial
Yang biasa dilakukan individu dalam koping psiko-sosial adalah, menyerang,
menarik diri dan kompromi.
1. Prilaku menyerang
Individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka
mempertahan integritas pribadinya. Prilaku yang ditampilkan dapat merupakan
tindakan konstruktif maupun destruktif. Destruktif yaitu tindakan agresif
(menyerang) terhadap sasaran atau objek dapat berupa benda, barang atau orang
atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Sedangkan sikap bermusuhan yang
ditampilkan adalah berupa rasa benci, dendam dan marah yang memanjang. Sedangkan
tindakan konstruktif adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara
asertif. Yaitu mengungkapkan dengan kata-kata terhadap rasa ketidak
senangannya.
2. Prilaku menarik diri
Menarik diri adalah prilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari
lingkungan dan orang lain, jadi secara fisik dan psikologis individu secara
sadar meninggalkan lingkungan yang menjadi sumber stressor misalnya ; individu
melarikan diri dari sumber stress, menjauhi sumber beracun, polusi, dan sumber
infeksi. Sedangkan reaksi psikologis individu menampilkan diri seperti apatis,
pendam dan munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu.
3. Kompromi
Kompromi adalah merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu
untuk menyelesaikan masalah, lazimnya kompromi dilakukan dengan cara
bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang sihadapi,
secara umum kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat
diselesaikan.
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism),
ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping
(Lazarus, 1976). Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri
sebagai dua hal yang berbeda. (Harber dan Runyon, 1984).
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis yaitu:
-
Tindakan langsung (direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan ole
individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan
cara mengubah hubungan hubunngan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu
menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia
melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (bereaksi) untuk
menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara
langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan
bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu
mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata
kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya
prestasinya baik disbanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya
mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya
adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua
supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit
tertentu.
b. Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen
yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa
atau menilai dirinya lebih kuat atau berkuasa terhadap agen yang mengancam
tersebut. Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakuakan oleh pemerintah
Jakarta terhadap penduduk yang berada dipemukiman kumuh. Tindakan tersebut bias
dilakukan karena pemerintah memilki kekuasaan yang lebih besar disbanding
dengan penduduk setempat yang digusur.
Agresi juga sering dikatakan sebagai kemarahan yang meluap-luap, dan orang
yang melalakukan serangan secara kasar, dengan jalan yang tidak wajar. Karena
orang selalu gagal dalam usahanya, reaksinya sangat primitive, berupa kemarahan
dan luapan emosi kemarahan dan luapan emosi kemarahan yang meledak-meledak.
Kadang-kadang disertai prilaku kegilaan, tindak sadis, dan usaha membunuh
orang.
Agresi ialah seseperti reaksi terhadap frustasi, berupa seranngan, tingkah
laku bermusuhan terhadap orang atau benda.
Kemarahan-kemarahan semacam ini pasti menggangu frustasi intelegensi,
sehingga harga diri orang yang bersangkutan jadi merosot disebabkan oleh
tingkah lakunya yang agresif berlebih-lebihan tadi. Seperti tingkah laku yang
suka mentolerir orang lain, berlaku sewenang-wenang dan sadis terhadap
pihak-pihak yang lemah, dan lain-lain.
c. Penghindaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan
berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri dari
situasi yang mengancam. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah
mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti
aceh.
d. Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan
dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja
agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan
diri dari situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei.
Orang-orang Cina yang menjadi korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan
berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati terjadi
bila tindakan baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun
advoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang.
Dalam kasus diatas, orang-orang cina sering kali dan berulangkali menjadi
korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbilkan reaksi apati dikalangan
mereka.
2. Peredaan atau peringatan (palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi, menghilangkan dan menoleransi
tekanan-tekanan ketubuhan atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dan tekanan
emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan
bahwa bila individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah
relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara
merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada 2 jenis koping peredaan atau palliation:
a. Diarahkan pada gejala (Symptom
Directid Modes)
Macam koping ini digunakan bila gangguan muncul dari diri individu,
kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang
berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman
tersebut. Penggunaan obat-obatan terlarang, narkotika, merokok, alcohol merupakan
bentuk koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini
bersifat negative. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi
ketegangan juga tergolong kedalam symptom directed modes tetapt bersifat
positif.
b. Cara intra psikis
Koping jenis peredaan dengan cara intrapsikis adalah cara-cara yang
menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal
dengan istilah Defense Mechanism (mekanisme pertahanan diri).
Disebut sebagai defence mechanism atau mekanisme pembelaan diri, karena
individu yang bersangkutan selalu mencoba mengelak dan membela diri dari
kelemahan atau kekerdilan sendiri dan mencoba mempertahankan harga dirinya:
yaitu dengan jalan mengemukakan bermacam-macam dalih atau alasan.
Jenis – jenis koping yang konstruktif dan positif.
Jenis-jenis koping yang konstruktif atau positif (sehat) Harmer dan Ruyon
(1984) menyebutkan jenis-jenis koping yang dianggap konstruktif: yaitu:
1. Penalaran (reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi bebagai macam
alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternate yang
dianggap paling menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai
informasi yang relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian
membuat alternatif-alternatif pemecahannya, kemudian memilih alternative yang
paling menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang
diperoleh paling besar.
2. Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan
logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga
meliputi kemampuan untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan
dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan. Kemampuan untuk melakukan koping
jenis objektifitas mensyaratkan individu yang bersangkutan memilki kemampuan
untuk mengelola emosinya sehingga individu mampu memilih dan membuat keputusan
yang tidak semata didasari oleh pengaruh emosi.
3. Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang
sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari
pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang
sedang dihadapi. Pada kenyataannya, justru banyak individu yang tidak mampu
berkonsetrasi ketika menghadappi tekanan. Perhatian mereka malah terpecah-pecah
dalam berbagai arus pemikiran yang justru membuat persoalan menjadi seakin
kabur dan tidak terarah.
4. Penegasan diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stress
dengan cara mengekpresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara
langsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain.
Menjadi asertif tidak sama dengan tidakan agresi. Sertif adalah menegaskan apa
yang dirasakan, dipikirkan oleh individu yang bersangkutan, namun dengan
menghormati pemikiran dan perasaan orang lain. Dewasa ini pelatihan-pelatihan
dibidang asertifitas mulai banyak dilakukan untuk memperbaiki relasi antar
manusia.
5. Pengamatan diri (self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspreksi, yaitu individu melakukan
pengujian secara objektif proses-proses kesadaran sendiri atau mengadakan
pengamatan terhadap tingkah laku, motif, cirri, sifat sendiri, dan seterusnya
untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin mendalam.
Pengamatan diri mengandaikan individu memilki kemampuan untuk melakukan
transedensi, yaitu kemampuan untuk membuat jarak antara diri yang diamati
dengan diri yang mengamati. Perkembangan kognitif dan latihan-latihan melakukan
introspeksi yang dilakukan sejak remaja, akan mempertajam keterampilan untuk
melakukan pengamatan diri.
Sumber :