| Budaya Batak | untuk semuanya |
mmmmmm mulai deh eksplorasi itu dibuat dengan bertanya ke kanan ke kiri apa benar bahwa adat batak jaman sekarang, apalagi dimana tanah batak merupakan tanah Nomensen masih menganut animisme??? Agak-agak takut juga laaaaaah... masa ternyata pesta perkawinan saya menyalahi firman Tuhan. Ternyata setelah membaca beberapa buku sebagai referensi dan ya bertanya itu lah ke beberapa hamba Tuhan yang benar-benar orang batak baru saya mengerti bahwa tidak ada yang salah dengan kebudayaan batak jaman sekarang. Adat batak jaman sekarang sudah disesuaikan iman kepercayaan kita. Bahasa somba tu hula-hula memang tidak bisa diartikan secara harfiah yaitu menyembah hula-hula, tapi diartikan menghormati mereka sebagai keluarga yang persatukan karena tali pernikahan.
Apalagi adik dari stevi (my hubby) tanggal 2 September 2006 yang lalu baru saja menikah, dan secara langsung saya terlibat didalamnya, karena mertua perempuan tidak berdarah batak otomatis membuat saya mengambil alih tanggungjawabnya dalam mengatur pesta yang mengambil adat taruhon jual (pesta di adakan oleh keluarga laki2). Kalo melihat sepak terjang kami (saya & Stevi) sebagai keluarga baru yang tentu saja tidak begitu dikenal dalam perkumpulan silitonga adalah tidak mungkin bila kami bisa mengundang segitu banyaknya keluarga silitonga, bahkan mereka ikut bekerjasama, ikut juga menyumbangkan materi mereka sehingga pesta tgl 2 kemarin bisa dibilang berlangsung dgn sukses.
Hal ini membuat saya kembali berpikir bahwa kerjasama & sumbangan dalam bentuk materi (Tumpak) mereka lakukan bukan karena terpaksa, tapi semua karena kasih. Apalagi adat batak terkenal berlangsung 1 hari penuh, kalo bukan karena kasih apa mereka mau berlelah-lelah? kalo bukan karena kasih boro-boro tinggal di gedung 1 harian, mending jg abis makan terus pulang...... Ngasih tumpak??????? kalo bukan karena kasih mendingan nggak aja deh................... dan ada kalimat yang membuat saya sadar bahwa adat batak memang harus dipelihara... kalimatnya begini.... Semua orang mempunyai kebudayaan masing-2 begitu juga orang batak, kalo bukan kita yang memelihara... bukan kah satu kali nanti adat batak akan punah??????? dimana lagi keistimewaan ulos kalo kita beranggapan memberi ulos adalah dosa, padahal penenun2 di toba sana sudah menenun ulos dengan keahlian mereka, bukan karena arwah2 lagi.............. Buat semua generasi muda batak, jangan pernah malu mengangkat budaya batak, karena itu adalah identitasmu. kalo gak mau pake budaya batak sekalian jgn ada inangtua, inanguda, aju.... jadi tante aja semua.... jangan ada amangtua, amanguda, tulang.... jadi om aja semua.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar